Minggu, 28 Oktober 2012

WAKTU DAN KEHIDUPAN MANUSIA


WAKTU DAN KEHIDUPAN MANUSIA

 

Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasehat-menasehati dalam menatapi kebenaran dan nasehat-menasehati dalam menetapi kesabaran"
[Q.S. AI Ashr: (103): 1-3]

hadits qudsi, "Pada setiap fajar ada dua malaikat yang berseru-seru: "Wahai anak Adam aku adalah hari yang baru, dan aku datang untuk menyaksikan amalan kamu. Oleh sebab itu manfaatkanlah aku sebaik-baiknya. Karena aku tidak kembali lagi sehingga hari pengadilan".
(H.R. Turmudzi).
Apakah kita termasuk orang yang bisa menghargai waktu,,,jawabnya ada pada diri kita masing-masing.  Bagaimana tidak disetiap kesempatan saya selalu saja melihat masih banyak orang yang selalu tidak menghargai waktu....

Hal yang penting adalah bagaimana kita melihat diri kita, sudahkah kita hargai waktu kita. Sudahkah kita intropeksi diri, sudahkah kita melakukan tanggung jawab atas waktu dengan gaji atau honor yang kita terima, sudahkan kita jujur pada diri kita atas waktu yang menjadi kewajiban kita, sudahkah kita,,,,dan sudahkah kita banyak lagi yang lainya yang pada akhirnya sudahkah kita menghargai waktu yang diberikan Tuhan sang Pencipta kepada kita agar di manfaatkan dengan sebaik-baiknya,,,,sekali lagi anda yang bisa menjawab.....
Mudah mudahan kita selain bisa belajar mengatur waktu yang tepat juga biasa memberikan arahan kepada orang yang terdekat kita untuk lebih menghargai waktu dengan tindakan nyata bukan hanya arahan tanpa contoh tindakan yang nyata,....

Time is money “Waktu adalah uang”.
Al-waqtu kas saifi “Waktu ibarat pedang”.
Sebenarnya waktu adalah kehidupan itu sendiri, sebab dalam kehidupan manusia tidak lain adalah waktu yang dimiliki semenjak lahir sampai manusia mati. Jika kita menyia-nyiakan waktu kita, berarti kita menyia-nyiakan hidup kita sendiri. Kebanyakan orang membuang waktu dengan bersenang tanpa melihat manfaat dan keutungannya bahkan sampai hal yang merugikan baik kesempatan maupun keselamatan, baik secara sadar maupun dilakukan dengan sebab lain.
Akhirnya menjadi suatu kebiasaan membuang waktu percuma, padahal waktu yang berlalu begitu cepat apalagi dengan banyaknya fasilitas di zaman yang serba modern, malam bisa jadi siang.
Jika kita memperhatikan ibadah-ibadah yang disyariatkan dalam agama, kaitannya juga sangat erat dengan waktu. Ibadah sholat diatur pelaksanaannya berdasarkan waktu, dan ada waktu-waktu dimana kita dilarang untuk sholat. Tidak hanya sholat, ibadah-ibadah lain juga diatur dengan waktu. Ini semua tidak lain agar kita perhatian dengan waktu.
Mengenai pentingnya waktu, dalam sebuah hadits shahih (dengan syarat Bukhari-Muslim) yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw berpesan kepada kita:

IGHTANIM KHAMSAN QABLA KHAMS
“MANFAATKANLAH OLEH KALIAN LIMA PERKARA SEBELUM DATANGNYA LIMA PERKARA YANG LAINNYA.”

1.    Syababaka qabla haramika (masa mudamu sebelum masa tuamu).
Masa muda penuh dengan potensi dan kekuatan. Badan dan otot sedang kuat-kuatnya. Pikiran dan ingatan masih tajam. Semangat dan idealisme sedang menggebu-gebu. Akan tetapi godaan di masa muda juga besar, sehingga tidak heran banyak yang terjerumus dan menyia-nyiakan masa mudanya.
Semestinya generasi muda muslim bisa mencontoh generasi muda para pendahulu kita, seperti Ali bin Abi Thalib, Mush’ab bin Umair, Usamah bin Zaid, Muhammad Al-Fatih, dan sebagainya. Bukan malah menggandrungi dan mencontoh idola-idola yang justru menjerumuskan, seperti artis, bintang film, dan sebagainya.
Ingatlah bahwa salah satu diantara tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat adalah: syaab nasya-a fii ibadatillah “seorang pemuda yang tumbuh besar dalam ibadah dan ketaatan kepada Allah” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra).
2.    Shihhataka qabla saqamika (masa sehatmu sebelum masa sakitmu).
Seringkali kita baru menyadari besarnya nikmatnya sehat ketika sudah sakit. Bayangkan pula orang yang banyak harta tetapi sakit keras dan hanya bisa tergolek diatas dipan rumah sakit. Apakah ia akan bisa menikmati harta bendanya? Kadang untuk makan dan minum saja ia tidak bisa.
Sebetulnya amat mengherankan bagaimana kita bisa tetap sehat, karena menurut para ahli sistem dan mekanisme dalam tubuh manusia sangatlah kompleks dan rumit. Jika bukan karena pemeliharaan dan kasih sayang Allah, niscaya amat sulit sistem dan mekanisme tersebut bisa terus terjaga dalam keadaan baik.
3.    Ghinaka qabla faqrika (masa kayamu sebelum masa fakirmu).
Kecenderungan manusia adalah bakhil (kikir). Pada saat yang sama syetan juga akan selalu membisiki manusia untuk bersikap bakhil. Maka kapanpun kita diberi kelapangan harta kekayaan oleh Allah, mari betul-betul kita manfaatkan untuk bersedekah. Kita tunaikan zakat kita. Bahkan bukan hanya zakat, tetapi juga infaq-infaq yang lainnya.
Sebetulnya kekayaan pun bukan hanya berupa harta benda. Jikapun kita tidak memiliki kekayaan harta benda, bisa jadi kita memiliki kekayaan dalam bentuk yang lainnya seperti harta, kedudukan, dan ilmu. Tentu saja itu semua juga bisa disedekahkan.
4.    Faraghaka qabla syughlika (masa luangmu sebelum masa sibukmu).
Rasulullah saw bersabda, “Ni’matani maghbuun fihima katsirun minan nas: ash-shihhah wal faraagh (Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia menyia-nyiakannya: sehat dan waktu luang).” (HR Bukhari, Ahmad, Tirmidzi, Darimi, dan Ibnu Majah) Memang demikian. Justru kebanyakan manusia malah terlena ketika sedang senggang. Di waktu-waktu senggang, kebanyakan orang justru suka melakukan hal-hal yang sia-sia, bahkan yang maksiat. Padahal Rasulullah saw berpesan, “Min husni islamil mar’i  tarkuhu ma laa ya’niihi (Diantara indikasi bagusnya keislaman seseorang adalah kemampuannya meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya).” (HR Tirmidzi)
5.    Hayataka qabla mautika (hidupmu sebelum kematianmu).
Kematian bisa datang kapan saja. Tidak harus menunggu tua. Tidak jarang pula kematian datang secara mendadak dan tidak terduga. Disamping itu, kematian jika datang tidak mungkin bisa diundur barang sejenak pun.
Hidup kita ini, seberapapun lamanya, adalah waktu yang sangat pendek – jika dibandingkan dengan lama & kekalnya akhirat. Karena itu marilah kita sedikit bersabar dan menahan diri dalam hidup ini – sabar untuk taat, sabar untuk tidak melanggar aturan Allah, sabar dengan berbagai hal yang tidak menyenangkan – karena hidup ini hanya sebentar. Jika kita tidak bisa menggunakan hidup kita dengan baik, maka kita akan menyesal untuk selama-lamanya. Namun penyesalan ketika itu tidak lagi berguna.
Mari kita perhatikan bagaimana Allah telah mengabarkan kepada kita keadaan orang yang hidupnya tidak taat ketika di dunia. Maka ketika nyawanya dicabut oleh Allah: “Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS Al-Mu’minun: 99-100)
Karena itu marilah kita gunakan hidup kita semata-mata untuk beribadah kepada Allah, karena sebenarnya tidaklah kita diciptakan kecuali untuk beribadah kepada Allah saja. Wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’buduun “Tidaklah Aku (Allah) menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
Mari kita ingat pula perintah Allah dalam QS Al-Qashash: 77: “Dan carilah apa yang Allah berikan kepadamu di negeri akhirat, namun janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” Dalam ayat ini, Allah memerintahkan agar yang kita cari dan kita kejar dalam hidup ini adalah kepentingan akhirat kita. Sedangkan kepentingan hanyalah sebatas “jangan engkau lupakan”. Namun yang jadi masalah, banyak manusia justru 23 jam mereka untuk urusan dunia semata, dan hanya 1 jam untuk akhirat. Karena itu marilah kita optimalkan ibadah dan mengingat Allah.

Referensi : Dari Berbagai Sumber







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar