Kamis, 16 Februari 2012

Maraknya Seks Bebas dan Narkoba



Maraknya Seks Bebas di Kalangan Remaja

(SD,SMP,SLTA,Mahasiswa dan Masyarakat)

By : Solikan,S.Pd
World Education –khan35.blogspot.com

Pergaulan Bebas (Seks bebas), sudah menjadi hal ‘biasa’ di kalangan pelajar apalagi mahasiswa bahkan masyarakat mulai kelas bawah sampai kelas atas. Baik atas dasar cinta ataupun motif ekonomi. Mengenai hal ini, saya sering berhadapan dengan warga masyarakat baik lingkungan umum maupun di lingkungan pendidikan,Instansi Pemerintah/swasta permasalahan anak-anak,remaja,dan masyarakat bahkan dalam beberapa kesempatan saya sering ngobrol dengan teman atau warga terutama yang dekat dengan fenomena ini, terutamanya lagi yang terjadi di kalangan pelajar (siswa SD,SMP, SMA dan setingkatnya).

Beberapa informan yang saya temui menurut penuturannya, kebanyakan ada beberapa siswa-siswi yang di DO (drop out) atau dikeluarkan dari sekolahnya karena menghamili dan hamil diluar nikah atau ada juga yang bahkan terbukti melacurkan diri ke lelaki hidung belang dan itupun ada pasar lokalnya.

Bahkan yang saya temui baik behadapan langsung dengan pelaku maupun dari informan, pergaulan bebas sudah marak bahkan menjadi hal yang biasa baik ditingkat anak-anak SD sampai masyarakat umum. Yang mengejutkan saya ketika saya menangani anak siswa tingkat SD dan SMP mereka dengan polosnya menceritakan hal yang dialami (Pergaulan bebas/Sek bebas/Sex Sebelum menikah), kebanyakan mereka dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya pergaulan, lingkungan, keluarga yang kurang harmonis, lingkungan masyarakat yang kurang mendukung serta banyaknya contoh kejadian kejadian negatif.

Kenakalan Pelajar
Kenakalan pelajar adalah suatu sikap atau perilaku pada seorang pelajar yang hanya ingin mencari perhatian saja dari teman-temannya dan para guru dengan cara berbuat keonaran atau berbuat kerusuhan baik di dalam kelas maupun diluar kelas tanpa menghiraukan akibat dari perbuatannya itu mengganggu orang lain atau tidak.
Kenakalan para pelajar kebanyakan disebabkan karena kurangnya perhatian dari orang tua, pengaruh lingkngan yang tidak baik dan pergaulan yang dapat menyebabkan pelajar menjadi brutal serta susah untuk diatur. Akan tetapi kenakalan para pelajar dapat diatasi dengan cara memberikan perhatian-perhatian khusus, memberikan bimbingan dan pengarahan serta dengan cara memberikan pendidikan, agar anak itu dapat berperilaku lebih baik.

Penyebab terjadinya kenakalan para pelajar adalah :
v  Kurangnya perhatian dari orang tua
v  Broken home
v  Pergaulan
v  Kurangnya pendekatan diri pada ilmu agama
v  Meniru perilaku orang-orang yang melakukan penyimpangan

Kenakalan remaja itu bisa didefinisikan sebagai perilaku menyimpang atau tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal. (Kartono, 2003).

kenakalan remaja merupakan suatu tindakan menyimpang/tidak dapat diterima sosial.yang jadi pertanyaannya: kenapa remaja melakukan pemberontakan?
Ada 3 hal yang berperan penting dalam hal ini, yaitu:

Pengaruh dari lingkungan.
Kebanyakan ketika pelajar ketahuan berbuat asusila baik itu terbukti berbuat mesum, sex bebas, narkoba, bahkan hamil di luar nikah, terbukti melakukan seks diluar nikah melalui foto atau video amatir, bahkan tindakan ‘umum’ yang selama ini dilakukan khususnya oleh pihak sekolah adalah menghukum siswi atau siswa yang bersangkutan dengan mengeluarkannya atau men D.O nya dari sekolah. Melanggar aturan sekolah dan mencemarkan nama baik sekolah, kira-kira seperti itu alasannya.
Dan yang menjadi pertanayaan adalah bagaimana nasib siswa/siswi setelah dikeluarkan dari lembaga sekolah apakah dengan mengeluarkannya siswa/siswi itu adalah sebuah solusi untuk masa depan yang bersangkutan?” jawabnya ooooo tidak,,,,,,,

Memang satu sisi pihak sekolah, hal itu memang salah satu sebuah solusi untuk menjadikan efek jerah juga peringatan bagi siswa-siswi yang lainya. Namun, bagaimana masa depan siswa/siswi akan menjadi lebih baik setelah dikeluarkan? Bahkan banyak dari mereka setelah dikeluarkan malah tambah berperilaku tambah tidak baik atau menyimpang. Kalau saya boleh mengistilahkan anak-anak itu merupakan “KORBAN” butuh penanganan khusus,,,,itulah yang seharusnya menjadi pertimbangan, kajian dan bahasan yang harus disikapi lebih lanjut khususnya bagi institusi pendidikan bernama sekolah. Bahwa, mengeluarkan siswa dari sekolah dalam kasus seperti diatas adalah bukan sebuah solusi yang tepat, tapi hanya penyikapan yang dinilai reaksioner dan sepihak. Seharusnya, baik pihak sekolah dan keluarga juga masyarakat memandang jauh kedepan akan effek jangka panjangnya terutama bagi siswa/siswi/pelajar/mahasiswa.

Sederhananya, menurut saya mereka yang terbukti atau ketahuan melakukan penyimpangan seks haruslah tetap diterima di sekolah atau kampus, diperlakukan seperti siswa lainnya, yang berbeda secara khusus yang bersangkutan lebih mendapatkan pembinaan dalam bidang tertentu, misalnya mata pelajaran moral ataupun keagamaan. Selain itu, secara umum ini masalah ini sudah seharusnya menjadi evaluasi bersama antara pihak sekolah dan keluarga siswi/siswa yang bersangkutan, apakah ada sistem, mekanisme atau komunikasi yang salah selama ini dan sebagainya. Maksudnya dari sini kita memahami jika sekolah bukanlah tempat kerja, dimana aturan layaknya kontrak yang kaku dan cenderung sepihak, tapi sekolah adalah tempat dilangsungkannya pendidikan dan tentunya juga pengajaran dengan proyeksi jangka panjang, bukan hanya menyangkut angka (nilai raport) tapi juga moral tentunya. Adalah tanggungjawab moral pihak sekolah juga untuk menyelamatkan masa depan siswanya yang berperilaku  (seks) menyimpang. Apalagi pendidikan berkarakter sudah menjadi prioritas utama.

Kenakalan Remaja Terjerumus Seks Bebas

Kenakalan remaja adalah suatu tindakan negatif yang dilakukan remaja akibat sebagian besar dipengaruhi oleh faktor salah dalam pergaulan. Masa remaja merupakan masa seseorang dalam kondisi pubertas aktif yang mana segala sesuatu baginya ingin diketahuinya, oleh karena itu pada masa remaja seorang anak perlu sekali mendapat bimbingan moral maupun spiritual. Pada masa ini mereka sangat rentan dalam hal yang dapat mempengaruhi perilaku baik ataupun buruk. Contoh perilaku buruk yang dapat menghinggapi jiwa seorang remaja adalah keinginan untuk mencoba merasakan minuman keras, narkoba, bahkan berhubungan seks. Terutama berhubungan seks, hal ini sangat diharamkan bagi remaja kita untuk mengenalnya, hubungan seks yang dilakukan remaja sebelum umur dewasa akan merusak moralitas. Hubungan seks tidaklah pantas dilakukan seorang remaja, hanya mereka yang telah dewasa yang diizinkan melakukannya, itupun bagi mereka yang telah terikat dalam hubungan yang sah.

Berhubungan seks bukan sekedar melampiaskan kenikmatan, namun ada tanggung jawab yang besar di dalamnya dan siapapun yang melakukannya harus siap menghadapi apapun resikonya, itulah sebabnya hubungan seks hanya boleh dilakukan mereka orang - orang yang telah dewasa dan bukan seperti seorang remaja yang masih ingusan.

Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metode coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukan sering menimbulkan kekhawatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orangtuanya.
Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik. Dalam mempersiapkan generasi muda juga sangat tergantung kepada kesiapan masyarakat yakni dengan keberadaan budayanya. Termasuk didalamnya tentang pentingnya memberikan filter tentang perilaku-perilaku yang negatif, yang antara lain; minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, sex bebas, dan lain-lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit HIV.
Sekarang ini zaman globalisasi, Remaja harus diselamatkan dari pengaruh globalisasi Karena globalisasi ini ibaratnya kebebasan dari segala aspek. Sehingga banyak kebudayaan-kebudayaan yang asing yang masuk. Sementara tidak cocok dengan kebudayaan kita. Sebagai contoh kebudayaan free sex itu tidak cocok dengan kebudayaan kita.
Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja.
Pacar bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil.
Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya.
Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja yang sedang jatuh cinta, orangtua hendaknya bersikap seimbang, seimbang antar pengawasan dengan kebebasan. Semakin muda usia anak, semakin ketat pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian agar mereka tidak ketakutan dengan orangtua yang dapat menyebabkan mereka berpacaran dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia makin meningkat, orangtua dapat memberi lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus dijaga agar mereka tidak salah jalan. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang bermanfaat.
Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja sama orangtua dengan anak. Misalnya, ketika orangtua tidak setuju dengan pacar pilihan si anak. Ketidaksetujuan ini hendaknya diutarakan dengan bijaksana. Jangan hanya dengan kekerasan dan kekuasaan. Berilah pengertian sebaik-baiknya. Bila tidak berhasil, gunakanlah pihak ketiga untuk menengahinya. Hal yang paling penting di sini adalah adanya komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Orangtua hendaknya menjadi sahabat anak. Orangtua hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi dua arah dengan sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan masalahnya kepada orangtua.
Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis di masa kini, orangtua hendaknya memberikan bimbingan pendidikan sek secara terbuka, sabar, dan bijaksana kepada para remaja. Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual.
Orangtua hendaknya memberikan teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan. Dengan memiliki latihan kemoralan yang kuat, remaja akan lebih mudah menentukan sikap dalam bergaul. Mereka akan mempunyai pedoman yang jelas tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh dikerjakan. Dengan demikian, mereka akan menghindari perbuatan yang tidak boleh dilakukan dan melaksanakan perbuatan yang harus dilakukan.
Berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Celakanya, perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang pendidikan. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum baik di pondokan atau kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius.
Pakar seks juga specialis Obstetri dan Ginekologi Dr. Boyke Dian Nugraha di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Kelompok remaja yang masuk ke dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 17-21 tahun, dan umumnya masih bersekolah di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau mahasiswa. Namun dalam beberapa kasus juga terjadi pada anak-anak yang duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) bahkan tingkat SD. Tingginya angka hubungan seks pranikah di kalangan remaja erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah aborsi saat ini, serta kurangnya pengetahuan remaja akan reproduksi sehat. Jumlah aborsi saat ini banyak  diantaranya dilakukan remaja.
Hal ini pula yang menjadikan tingginya angka kematian ibu di Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai negara yang angka kematian ibunya tertinggi di seluruh Asia Tenggara.Dari sisi kesehatan, perilaku seks bebas bisa menimbulkan berbagai gangguan. Diantaranya, terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Selain tentunya kecenderungan untuk aborsi, juga menjadi salah satu penyebab munculnya anak-anak yang tidak diinginkan.
Keadaan ini juga bisa dijadikan bahan pertanyaan tentang kualitas anak tersebut, apabila ibunya sudah tidak menghendaki. Seks pranikah, juga bisa meningkatkan resiko kanker mulut rahim. Jika hubungan seks tersebut dilakukan sebelum usia 17 tahun, risiko terkena penyakit tersebut bisa mencapai empat hingga lima kali lipat. Sekuat-kuatnya mental seorang remaja untuk tidak tergoda pola hidup seks bebas, kalau terus-menerus mengalami godaan dan dalam kondisi sangat bebas dari kontrol, tentu suatu saat akan tergoda pula untuk melakukannya. Godaan semacam itu terasa lebih berat lagi bagi remaja yang memang benteng mental dan keagamaannya tidak begitu kuat.
Saat ini untuk menekankan jumlah pelaku seks bebas-terutama di kalangan remaja-bukan hanya membentengi diri mereka dengan unsur agama yang kuat, juga dibentengi dengan pendampingan orang tua dan selektivitas dalam memilih teman-teman. Karena ada kecenderungan remaja lebih terbuka kepada teman dekatnya ketimbang dengan orang tua sendiri.Selain itu, sudah saatnya di kalangan remaja diberikan suatu bekal pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah, namun bukan pendidikan sex secara vulgar. Pendidikan Kesehatan Reproduksi di kalangan remaja bukan hanya memberikan pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual dan sebagainya. Dengan demikian, anak-anak remaja ini bisa terhindar dari percobaan melakukan seks bebas.
Dalam keterpurukan dunia remaja saat ini, anehnya banyak orang tua yang kurang perhatian terhadap perkembangan anak-anaknya. Kini tak sedikit orang tua dengan alasan sibuk lebih senang menitipkan anaknya di babby sitter. sekolah yang mahal tapi miskin nilai-nilai agama. Acara televisi dengan tayangan yang bikin ‘gerah’, Video klip lagu dangdut saja, saat ini makin berani pamer aurat dan adegan-adegan yang bikin dek-dekan jantung para lelaki. Ditambah dengan banyaknya gambar, vidio porno yang sangat dengan mudah diakses baik lewat internet maupun lewat maraknya hp yang tidak semestinya difungsikan pada hal-hal ynag penting. Belum lagi tayangan film yang bikin otak remaja teracuni dengan pesan sesatnya. Ditambah lagi, maraknya tabloid dan majalah yang memajang gambar sekwilda”, alias sekitar wilayah dada; dan gambar bupati”, alias buka paha tinggi-tinggi. Konyolnya, pendidikan agama di sekolah-sekolah ternyata tidak menggugah kesadaran remaja untuk kritis dan inovatif.

Mudah-mudah kita semua bisa memberikan contoh secara langsung dengan berbuat, betindak yang mencerminkan budi pekerti yang tinggi dengan bahasa pendidikan berkarakter,,,,sehingga kita tidak hanya meyalahkan anak-anak/pelajar/mahsiswa melakukan sesuatu yang menyimpang sedangkan orangtua/guru/wakil rakyat/pemimpin dan semuanya tidak memberikan contoh yang tidak baik.

Referensi : dari bebagai sumber
Lumajang,16 Pebruari 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar