Minggu, 26 Februari 2012

SIAPAPUN BERPOTENSI SELINGKUH



SIAPAPUN BERPOTENSI SELINGKUH
Oleh : Solikan,S.Pd
World Education – khan35.blogspot.com

Definisi Selingkuh
Selingkuh secara umum adalah bentuk penyimpangan yang dilakukan seseorang yang tidak setia kepada  pasanganya yang terjalin dalam suatu komitmen dalam masa pacaran atau sudah menikah, dengan membuat komitmen lain  apakah pacaran lagi, nikah lagi ataupun sejenisnya dengan melakukan perbuatan yang melanggar nilai dan norma masyarakat maupun agama (khan35.blogspot.com).

Mengapa Melakukan Selingkuh
Mengapa Seseorang berbuat selingkuh, hal ini ada banyak faktor penyebabnya, merasa tidak cukup dengan yang satu (si pertama). Tidak cukup di sini bisa banyak hal. Physically, kenyamanan, keamanan, materi yang didapatkan, dan lain-lain. Munculnya rasa tidak cukup, bersumber dari apa yang dicari atau diharapkan seseorang dari pasangannya. Karenanya, alasan selingkuh bagi satu dan yang lainnya berbeda, belum tentu sama.
Ketika yang diharapkan seseorang adalah rasa nyaman (kenyamanan), munculnya harapan dari kebutuhan. Kenapa butuh, mungkin karena sebelumnya tidak mendapatkan atau kurang. Sehingga, sebanyak apapun pasangannya memberi secara materi, setampan atau secantik apapun pasangannya, namun tidak bisa memberi kenyamanan yang dia butuhkan atau dia harapkan, maka dia secara sadar maupun tidak, niat atau tidak, akan merasa tidak puas,”
Karena itu, banyak orang-orang kemudian berkomentar, suaminya kaya-raya, malah selingkuh dengan orang biasa/miskin. Atau, istrinya cantik, malah selingkuh dengan perempuan kurang cantik. Jadi tidak ada ketentuan pasti. Kriteria orang seperti apa yang bisa dijadikan selingkuhan. Termasuk orang seperti apa yang bisa selingkuh. Intinya cuma satu mereka tidak mampu bersyukur. Ketika kita sudah menentukan  seseorang dalam satu komitmen pacaran atau menikah, seharusnya dalam komitmen itu kita syukuri. Itupun tidak setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Jangan merasa sempurna, sehingga tidak mau menerima kekurangan pasangan.

Bolehkan  perselingkuhan terjadi dilingkungan kita?
Yang jelas segala bentuk penyimpangan sosial itu biasanya bertentangan dengan masyarakat. Namun mengapa kasus perselingkuhan semakin marak dan semakin berjarak dekat dengan kita. Saudara, teman main,pegawai, penegak hukum, aparat pemerintah, wakil rakyat, bahkan tokoh agama yang menjadi panutan kita atau siapa pun yang kita kenal baik, ternyata pelaku perselingkuhan di sekeliling kita yang begitu banyak, baik yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi, untuk itu harus punya rasa khawatir ketika menghadapi permasalahan disekitar itu. Jangan sampai kita terjebak dengan pola kebiasaan itu meskipun banyak kata bijak mengatakan bahwa “nasib orang tidak ada yang tau”dari sini kita hendaknya waspada dan hati-hati.

Sebelum jauh kita mensikapi perselingkuhan lebih baiknya kita juga mengulas balik bahkan intropeksi diri janganlah mudah untuk menngklaim bahwa orang itu salah, tidak beriman atau sebagainya. Kami bahkan perna melakukan beberapa penelitian tanpa tulisan ilmiah bahwa dalam bentuk fisik seseorang sudah ada tanda-tanda mengenai watak,sifat, perilaku dan kebiasaan dilihat dari tanda-tanda tubuh (baca tanda-tanda watak tubuh manusia), tetapi dengan adanya suatu kebijakan nilai dan aturan dilingkungan kita masing-masing yang sudah ada dan perlu di tegakkan kami yakin penyimpangan sosial dalam bentuk apapun akan bisa ditekan meskipun tidak bersih sekaligus dan kalau boleh kami katakan hal itu pasti akan terjadi dengan kapasitas permaslahan dan tingkatan yang berbeda.
Untuk itu sebagai masyarakat yang baik kita berusaha mempertahankan citra sebagai orang baik, bukan orang benar. Mari kita bertanya pada diri masing-masing. Apakah kita tanpa sadar mendukung perselingkuhan?
Siapapun serta ajaran agama mana pun, pasti tidak ada yang membenarkan perselingkuhan dalam rumah tangga. Begitupun dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, pasti memandang negatif perselingkuhan, termasuk negara manapun, bahkan Pernikahan benar-benar dianggap sebuah media yang harus bersih dari perselingkuhan, dan kesetiaan menjadi keharusan bagi pasangan suami-istri, tak peduli berapa pun umur pernikahannya, dan bagaimanapun kondisi pernikahannya.

Akan tetapi, kenyataan di masyarakat berkata lain, betapa mudahnya perselingkuhan dalam rumah tangga terjadi di masyarakat kita. Tidak perlu jauh-jauh melihat penyimpangan itu karena hal itu bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di depan mata kita. Perselingkuhan bisa dilakukan oleh tetangga kita, kerabat kita, saudara kita, teman kita, teman kerja kita, atasan kita, guru/dosen kita,aparat pemerintah, tokoh agama, sahabat dekat kita, orang tua kita, saudara kandung kita, atau bahkan kita sendiri.
Perselingkuhan, dengan atau tanpa hubungan seks, meskipun jelas dilarang menurut agama dan dianggap buruk oleh masyarakat, pada kenyataannya begitu mudah untuk ditemukan, bahkan untuk dilakukan. Perselingkuhan tak kenal status sosial, tingkat pendidikan, jabatan, bidang profesi, domisili, bahkan gender. Kemajuan media massa dan teknologi semakin mempermudah seseorang untuk melakukan perselingkuhan. Bahkan perselingkuhan seolah menjadi tren yang populer di masyarakat. Kalau kenyataannya seperti itu, kita jadi bertanya-tanya, ada apa di balik semua ini? Apa yang salah? Dan… siapa yang salah?

Jika kita pandang dari sudut agama, banyaknya perselingkuhan merupakan indikasi menipisnya tingkat keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME, Apalagi di zaman modern sekarang ini hal berbau agama sudah tertutup hal-hal duniawi. Namun permasalahan perselingkuhan dalam rumah tangga merupakan permasalahan yang sulit dan kompleks, diperlukan sikap kehati-hatian dan berpikir yang positif serta bijak dalam mensikapi permasalahan ini.

Faktor Penyebab Perselingkuhan
Banyak faktor seseorang melakukan perselingkuhan. Tapi yang jelas, kita tak bisa “menghakimi” media massa dan teknologi sebagai pihak yang salah. Karena meskipun media massa melalui televisi begitu rajin menyuguhkan acara-acara sinetron, telenovela dan infotainment yang menceritakan tentang perselingkuhan, dan juga koran/tabloid yang juga rajin memuat berita atau cerita tentang perselingkuhan, yang bisa saja menjadi contoh dan inspirasi yang tidak baik kepada penonton dan pembacanya, tapi media massa hanyalah mengangkat potret masyarakat kita yang sebenarnya, dan bukan didasarkan pada imajinasi semata ataupun sebuah propaganda. Sedangkan teknologi, meskipun menghasilkan HP dengan segala fasilitasnya, dan juga internet dengan segala fasilitasnya yang menjadi booming di masyarakat kita bisa dijadikan sarana dan media selingkuh yang mudah, cepat, efisien, dan efektif, tapi teknologi hanyalah “alat bantu” manusia. Segala manfaat dan mudaratnya sangat bergantung pada manusia sebagai subjek.
Sederhananya PDRT (perselingkuhan dalam rumah tangga) berkaitan langsung dengan pasutri yang bersangkutan. Salah satu pihak pasutri yang berselingkuh pastilah dianggap sebagai pihak yang salah. Akan tetapi, tanpa bermaksud membela pihak peselingkuh tersebut, kita juga harus bisa melihat dan menilai secara objektif dan proporsional apa yang melatar belakangi dan penyebab orang tersebut melakukan perselingkuhan. Kita tak bisa memberi cap “peselingkuh” tersebut sebagai orang bejat, tidak bermoral, atau orang tak beragama. Karena realitanya, tak sedikit “peselingkuh” tersebut termasuk tipe suami/istri yang orang “baik-baik”, cukup taat beribadah, dan bukan tipe orang  yang senangnya kelayapan dan senangnya hanya menghabiskan waktunya dengan melakukan berbagai bentuk penyimpangan.
Ada banyak “motivasi” dan “latar belakang” pasutri melakukan perselingkuhan, yang sebenarnya hal tersebut merupakan indikator “ketidakberesan” di dalam rumah tangga mereka, walau sekecil apa pun. Berbagai beban, tekanan, dan problem hidup yang menumpuk dan bervariasi yang dialami pasutri di dalam rumah tangga mereka merupakan faktor utama;
v  masalah ekonomi,
v  masalah anak,
v  Masalah harga diri
v  masalah keluarga besar
v  masalah psikis,
v  komunikasi yang buruk,
v  tempat tinggal terpisah
v  masalah pekerjaan,
v  masalah status sosial
v  masalah pendidikan yang mencolok,
v  perbedaan persepsi dan idealisme
v  kejenuhan,
v  masalah seksual,
v  dan masih banyak lagi.
Kehadiran WIL (wanita idaman lain) atau PIL (pria idaman lain), baik yang masih single, janda/duda, ataupun sama telah menikah, memang banyak dituding sabagai biang kerok terjadinya perselingkuhan di dalam rumah tangga. Tak sedikit istri yang langsung melabrak wanita selingkuhan suaminya, ataupun suami yang langsung marah  kepada pria selingkuhan istrinya, begitu mereka mengetahui perselingkuhan pasangannya. Tapi, benarkah semua “kesalahan” itu harus ditimpakan kepada para WIL atau PIL? Kalau memang rumah tangga mereka “baik-baik” saja, dan pasangan mereka pun “baik-baik” saja, kenapa sampai bisa masuk “orang ketiga” di tengah-tengah mereka?
Untuk itu kita jangan langsung melebeli PIL dan WIL itu sebagai soerang penggoda, perusak rumah tangga orang, orang salah bahkan rendahan, tak bermoral, dsb. Dan perlu kita tau tidak sedikit juga merupakan orang baik, cukup taat beribadah, berpendidikan, dan bukanlah tipe orang yang nakal. Bakan lebih dari itu janganlah kita mengira motivasi mereka hanyalah mengejar materi ataupun faktor ekonomi. Memang ada sebagaian motovasi mereka untuk itu tapi tidak sedikit pula peselingkuh, berselingkuh dengan suami atau istri orang lain yang tidak mampu/miskin. Namun mengapa mereka juga melakukan perselingkuhan itu? Bisa jadi mereka sedang mengalami krisis perhatian, kasih sayang, perlindungan,kesepian, kekosongan, butuh sandaran, dan teman berbagi bahkan bisa jadi juga mereka menaruh suka, simpati, ataukah jatuh hati.
“Perasaan cinta akan tumbuh kalau kita bisa memupuk dan merawat cinta dengan pasangan kita yang di kemas dalam kebersamaan dalam menjalin dan merajut kesetiaan, kepercayaan, kejujuran dan keterbukaan dengan ikhlas bukan karena keharusan dan keterpaksaan serta kepura-puraan”

Jadi kalau kita simpulkan permasalahan perselingkuhan bukan terletak pada siapa yang salah namun apa yang menjdai penyebab dan yang melatar belakangi terjadinya penyimpangan (perselingkuhan) dalam rumah tangga kalau kita singkat jadi (PDRT) hehehee....tidak hanya KDRT dan bagaimana mencari solusi yang baik, bijak, dewasa, bermartabat dan untuk kebaikan semua. Bukan dengan cara-cara yang kekanak-kanakan, arogan, dan egoistis bahkan kecenderungan main hakim sendiri bahkan sampai pada tingkat penganiayaan serta pembunuhan. Jangan sampai masalah perselingkuhan yang merupakan masalah serius dalam rumah tangga, menjadi semakin luas dan ke mana-mana, yang pada akhirnya bukan hanya aib kita yang terekspos kepada umum, tapi juga masalah pokoknya tidak akan terselesaikan, dan justru akan menyebabkan kehancuran dan penderitaan yang berkepanjangan.

Sanksi Bagi Pelaku Peselingkuhan
Terungkapnya kasus perselingkuhan yang dilakukan oleh berbagai komponen masyarakat seperti oknum pejabat, oknum guru, Saudara, teman main,pegawai, penegak hukum, aparat pemerintah, wakil rakyat, bahkan tokoh agama yang menjadi panutan kita atau siapa pun yang kita kenal baik, mengapa pelakunnya, dari kalangan orang berpendidikan. Mengapa bisa terjadi? Selingkuh,,,,,,,,,,Secara umum, maraknya kasus pasangan yang tertangkap selingkuh, tertangkap mesum atau free seks di kalangan remaja, hal ini harus dilihat terlebih dahulu aspek-aspek yang melatar belakanginya. Dalam kasus perselingkuhan, jika dari sudut pandang prianya, memiliki kecenderungan untuk berpoligami. Ketika niat berpoligami tidak kesampaian karena terhalang berbagai persyaratan (seperti faktor agama, keluarga atau syarat lainnnya), maka pihak pria cenderung mencari jalan keluar lain guna memenuhi kebutuhan tersebut. ”Melakukan perbuatan menyimpang seperti melakukan perselingkuhan atau sek bebas,” katanya.
Sementara jika dilihat dari sudut pandang wanitanya, kecenderungan dilatar belakangi faktor ekonomi. ”Pihak perempuan melakukan perselingkuhan umumnya karena mencari kemapanan. Kadangkala mereka rela melakukan apa saja untuk mendapat kemapanan tersebut. Termasuk menggoda suami orang,” Anggapan menyebut kelas atau pengklasifikasian kasus asusila hanya menimpa kelompok tertentu, adalah anggapan yang salah. Tapi dilakukan oleh berbagai kalangan. ”Faktor itu tidak mempengaruhi apakah berasal dari kalangan pendidikan, artis, politikus, aparat penegak hukum, dari kelas bawah ataupun atas, itu bukan faktor utama. Pemicu penyimpangan seperti itu, utamanya yakni hasrat biologis, selain tentunya faktor moralitas. Orang yang moralnya baik, agamanya kuat dan lingkungan juga baik tidak akan mudah melakukan perbuatan menyimpang tersebut. Satu lagi, faktor lingkungan umumnya pelaku perselingkuhan atau penyimpangan seksual berasal dari kalangan sama. Jika sampai perselingkuhan itu terungkap, maka aturan hukum yang dipakai tergantung pada pelakunya dan bagaimana dia melakukannya.
Jika perselingkuhan disertai berhubungan badan, tentang perzinahan sebagaimana diatur KUHP Pasal 284 KUHP. Jika tidak disertai dengan hubungan badan, dikenakan pasal tentang pencabulan. Jika terhadap anak di bawah umur, akan dijerat dengan pasal tentang perbuatan cabul terhadap anak di bawah umur. Ancamannya cukup berat. Selain sanksi hukum adapula sanksi moral. ”Untuk sanksi ini tergantung dengan adat istiadat masyarakat setempat, ada yang diarak keliling kampung, ada yang dikawinkan, ada pula yang diusir dan dikucilkan semua tergantung adat di dalam masyarakat yang ada.

Pergeseran Moral dan Kelabilan Psikologi
Maraknya perselingkuhan dan perbuatan mesum yang terjadi, harus diperhatikan sebagai pergeseran moral dan adanya kelabilan psikologi seseorang. Jika hal tersebut dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah, berarti tidak ada lagi rasa penghormatan terhadap pernikahan dan komitmen-komitmen yang telah disepakati sebelumnya. “Karena pada intinya, suatu rumah tangga merupakan penggabungan antara dua pribadi berbeda. Sehingga harus punya komitmen. Karenanya selingkuh dapat dipandang sebagai tidak adanya penghormatan lagi dalam berumah tangga. Pernikahan telah dianggap sebagai main-main.
Dalam sudut pandang psikologi, banyak alasan mendorong melakukan perbuatan selingkuh dan mesum. Salah satunya kebosanan, bisa menjadi suatu pembenaran untuk melakukannya. Mereka (pelaku perselingkuhan), merasakan perkawinannya yang berlangsung selama bertahun-tahun dirasa berlangsung datar dan hambar. ”Misalnya suami merasa istrinya tidak cantik lagi, atau istri yang merasa suaminya tidak gagah lagi.
Sehingga ketika terjadi kebosanan dalam kehidupan berumah tangganya, mereka mencoba ‘petualangan’ lain yang lebih ‘menantang’. Lebih jauhnya lagi, perselingkuhan dapat dilakukan secara bersamaan oleh suami istri. Sakit hati dengan pasangannya yang berselingkuh, dia melakukan aksi balas dendam dengan cara berselingkuh juga. ”Faktor lain, diawali dengan rasa iseng, akhirnya keterusan. Jadi, banyak motif yang mendorong orang untuk melakukan perbuatan mesum dengan orang yang bukan pasangan sahnya.

Sementara untuk perbuatan mesum yang dilakukan kalangan remaja yang belum menikah, lebih disebabkan faktor moralitas. Kematangan pribadi mereka tidak penuh. “Mereka hanya melihat hubungan itu untuk sekedar menyalurkan hawa nafsu. Padahal, bisa diambil sebagai proses pematangan pribadi menuju kedewasaan. Karenanya, dalam hal ini sangat diperlukan pendampingan aktif orang tua. Meski telah remaja, seorang anak tidak dilepas begitu saja, sehingga ketika sang anak melakukan hal yang menjurus pada penyimpangan, orang tua dapat mengontrolnya. Disamping itu, pendidikan perlu dipertajam lagi, terutama untuk keagamaan. “Orang tua juga perlu memberikan contoh yang baik, sehingga dapat ditiru oleh anak-anaknya.
Referensi : dari berbagai sumber



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar