Kamis, 05 April 2012

PENDIDIKAN AGAMA DALAM KELUARGA

 PENTINGNYA PENDIDIKAN AGAMA DALAM KELUARGA

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an ,”Allah  memerintahkan manusia agar menjaga dirinya dan keluarganya dari siksa neraka, perintah ini yaitu perintah agar menjaga keimanan.

Oleh : Solikan,S.Pd
Kian terpuruknya akhlak warga Negara merupakan keprihatinan semua elemen masyarakat itu kembali, terlebih pemerhati pendidikan khususnya pemerhati pendidikan islam maupun agama yang lainya. Kemerosotan akhlak itu agaknya terjadi pada semua lapisan masyarakat, hal ini tampak pada banyaknya kasus baik itu kasus yang sudah benar-benar nyata, atau kasus yang nyata, namun orang enggan untuk memperhatikan yang mana, bahkan membiarkan itu terjadi sehingga pada akhirnya kesemuanya menjadikan terbias dampaknya.
Akan tetapi kemerosotan yang paling banyak terjadi adalah lapisan remaja yang mana dapat kita lihat dari banyaknya kasus kehilangan ketentraman dan kebahagiaan dalam rumah tangga, bahkan masyarakat pada umumnya. Tidak lain disebabkan oleh kenakalan remaja. Bahkan kenakalan remaja banyak menimbulkan keresahan didalam mayarakat yaitu dengan terusiknya ketentraman dan kebahagiaan, serta banyaknya kejahatan yang dilakukan remaja seperti kasus sek bebas, pemerkosaan, narkoba dan banyak aksi-aksi bahkan geng atau kelompok yang mengatasnamakan remaja.
Kenakalan remaja selain merugikan diri remaja itu sendiri juga merugikan keluarga, lingkungan, masyarakat bahkan yang lebih luas merugikan bangsa dan  Negara. Karena kenekalan remaja sering identik dengan kesehatan fisik yang terganggu mis: sakit-sakitan, kurang bergairah, tidak semangat dalam bekerja atau belajar, bahkan kurang nafsu makan dan ada pula yang mengatakan bahwa prestasi remaja akan semakin berkurang bahkan menurun drastis bahkan tidak ada prestasi,  hal ini disebabkan mereka tidak sungggu dalam belajar dan tidak disiplin dan kurang konsentrasi dalam menerima pelajaran/ilmu.
Sedangkan jika kita melihat skala nasional kenakalan remaja sangat membahayakan pejalanan bangsa. Padahal remaja merupakan tulang punggung yang akan menggantikan tugas bangsa di pundaknya, terus bagaimana jika remaja yang menjadi pengganti mentalnya sudah dipertanyakan bahkan sakit???? Sehingga mutu dan kualitas remaja sekarang seharusnya lebih bagus dari kualitas remaja kita kemarin.
Akhirnya tidak salah jika kita mengkhawatirkan nasib para remaja itu, hal ini dikarenakan di masa globalisasi sekarang ini yang ada adalah kompetensi atau persaingan dan hanya orang-orang yang benar-benar siap yang akan mampu menghadapi tantangan itu, tidak hanya bagaimana hanya  bertahan hidup.
            Kita semua sudah tahu bahwa pemerintah sudah memahami betul permasalahan ini; diantaranya langkah strategis itu adalah menempatkan tujuan pendidikan nasional seperti dalam Pasal 4 UU No.2 tahun 1989 ditetapkan bahwa tujuan pendidikan kita ialah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur.
Untuk itulah pemerintah mewajibkan pendidikan agama kepada setiap jenis dan jenjang pendidikan (UU No.2/1989 Pasal 39) serta Undang-Undang Bab II Pasal 3 No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mana pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dan Pasal 1 UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Berangkat dari undang-undang ini, dapat kita temukan bahwa garis besar dari tujuan pendidikan nasional adalah selain mencerdaskan peserta, juga terciptanya karakter peserta yang beriman, mandiri, dan berahklak mulia. Bila demikian, dengan melihat potret-potret dunia pendidikan saat ini, bisa dikatakan sistem pendidikan nasional belum berhasil sepenuhnya memenuhi tujuan undang-undang di atas.
Berdasar itu pula banyak orang tua mempercayakan pendidikan agama anak-anaknya kepada sekolah, karena mereka menganggab bahwa sekolah sudah ada pendidikan agama bahkan guru agamanya. Sehingga orang tua kepada sekolah dianggap sudah mencukupi dan lagi anggapan orang tua yang menambahkan pendidikan agama bagi anaknya dengan mendatangkan guru privat ke rumahnya dengan harapan tak lain anaknya akan menjadi orang yang beriman dan bertaqwa. Tindakan orang tua tersebut itu benar namun belum mencukupi, terus bagaimana????
Pada prinsipnya inti agama adalah Iman sedangkan inti keberagamaan adalah keberimanan, dan keberimanan itu tidak dapat diajarkan hanya disekolah, pesantren bahkan hanya mendatangkan guru privat kerumah, padahal kesemuanya itu hanya mengajrkan pengetahuan tentang Iman, keimananan dan keberimanan, kesemuannya itu hanya mengajarkan yang bersifat kognitif yang hanya penyampaian pengetahuan. Sedangkan keberimanan itu adalah sesuatu yang berada di dalam hati (Al-qalb) dan keimanan bukan hanya di kepala bahkan bukan hanya pengetahuan serta keberimanan itu bukanlah persoalan kognifif.
Al-Qur’an menceritakan bahwa suatu ketika datang segerombolan orang yang menghadap Rasulullah SAW,”mereka berkata,”Ya Rasulullah, kami telah beriman,”Rasulullah menjawab ,”janganlah kalian mengatakan kami beriman, katakana saja kami telah tunduk (Taslim), karena iman belum memasuki hati (Al-Qulb) kalian,”jadi iman di dalam hati.
Lantas bagaimana menjadikan seorang beriman????? Nabi SAW mengajarkan bahwa keimanan itu perlu ditanamkan, penanaman itu harus dimulai sejak dini sekali yaitu sejak memilih jodoh, Nabi Bersabda ,”Pilihlah tempat penyemaian benih kalian”(hadits riwayat ibnu majah, Al-hakim) maksudnya hati-hatilah dalam memilih jodoh. Singkat cerita bahwa Nabi mengajarkan bahwa pendidikan keimanan itu pada dasarnya dilakukan oleh orang tuanya. Caranya melalui peneladanan dan pembiasaan. Sehingga peneladanan dan Pembiasaan inilah yang harus dilakukan orang tua terhadap anak-anaknya.
Adapun keimanan di rumah tangga memiliki dua kendala yaitu:
1.      Banyak orang tua yang belum menyadari
Maksudnya orang tua perlu mencamkan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an ,”Allah  memerintahkan manusia agar menjaga dirinya dan keluarganya dari siksa neraka, perintah ini yaitu perintah agar menjaga keimanan.
2.      Banyak orang yang belum mengetahui
Yaitu dilakukan dengan cara peneladanan dan pembiasaan yang dilakukan orang tua yang menjadi tautan anak-anaknya.
Dengan demikian kita melakukan pendidikan agama dalam keluarga berarti kita sebagai orang tua sudah menyelematkan generasi muda baik dilingkungan keluaraga, lingkungan masyarakat dan secara umum kita sudah berpartisipasi dalam menyelamatkan bangsa dan Negara sehingga harapan generasi muda menjadi warga Negara Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME bisa terwujud, yang pada akhirnya akan tercipta suasana cinta dan damai.Amin.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar